Pada suatu sore ketika banyak orang pulang kerja, ada satu orang pengusaha menaiki mobil BMW serta terlihat terburu-buru. Ia turun dari mobilnya dan menuju ke ATM terdekat untuk mengambil sejumlah uang, yang tentunya dalam jumlah besar.
Di depan ATM itu terlihat ada seseorang yang sedang duduk di lantai. Pakainnya kumuh, berlubang, dan seperti tidak pernah dicuci. Sorot matanya menunjukkan seseorang yang putus asa dan tidak punya harapan, alias melas. Di depannya ada sebuah kaleng bekas yang sudah karatan berisi uang-uang koin. Tak usah berpikir panjang pun kalian juga sudah tahu kalau itu adalah pengemis dan jawaban itu 100% benar.
Namun si pengusaha dengan cueknya melangkah melewati pengemis itu dan masuk ke ATM. Ternyata si pengusaha itu ingin mentransfer uang, dengan jumlah yang banyak tentunya. Ketika ia hendak keluar tiba-tiba ia merasa iba kepada pengemis itu. Lalu ia menghentikan langkahnya sebentar dan mengambil dompet dari sakunya. Setelah melihat dari pojok kanan sampai pojok kiri dompet, akhirnya ia menemukan uang dengan nominal paling kecil. Diberikanlah uang seribu rupiah itu kepada si pengemis.
"Terima kasih, Tuan," kata si pengemis dengan ukiran senyum di wajahnya. Saking senangnya ia menggenggam kuat uang seribuan itu. Ekspresinya menunjukkan penghasilan terbesarnya di hari itu.
Apa yang dirasakan si pengemis dan sang pengusaha sangat berbeda. Si pengusaha itu malah tersenyum kecut dan segera masuk ke mobil. Ternyata ia tidak rela untuk memberikan uang secara cuma-cuma kepada pengemis tadi.
Dasar Kikir! Dia kembali menuju ke pengemis. Diambilnya kaleng milik si pengemis yang mungkin adalah harta satu-satunya. Dengan WATADOS pengusaha itu berkata, "Kamu juga pengusaha bukan?".
Kemudian pengusaha itu kembali ke mobilnya. Si pengemis itu hanya melongo (O.O)?. Secara tidak sadar ia meneteskan air matanya. Bersamaan dengan itu, langit sudah bewarna merah. Matahari mulai tenggelam.
Delapan tahun kemudian, di sebuah gedung mewah di kota besar, si pengusaha melamun di kantornya. Bahkan terlihat seperti orang stres.
Ternyata dia benar-benar sudah stresssssss. Dia stres karena krisis ekonomi yang hampir membuat perusahaannya bangkrut. Dan satu hal lagi yang lebih buruk, ia bisa jatuh miskin, suatu hal yang belum ia alami seumur hidup. Belum lagi, tanggungan hutang yang belum bisa ia bayar.
Tidak hanya jatuh miskin, mungkin ia akan masuk penjara karena tidak bisa melunasi hutangnya. Tiba-tiba telepon berdering. "Pak, ada orang yang ingin bertemu dengan Bapak," kata si sekretaris. Sebenarnya si pengusaha sedang malas sekali menemui orang, apalagi orang yang tidak dikenalnya. Namun karena profesional, ia putuskan untuk temui tamu misterius ini.
Tamu misterius itu pun masuk. Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya si pengusaha menanyakan maksud kedatangan tamu itu. Alangkah kagetnya si pengusha itu karena tamu misterius itu ingin menginvestasikan uang dalam jumlah besar di perusahaannya. Si pengusaha hanya melongo tidak percaya.
Sebelum air liur si pengusaha itu menetes, tamu misterius itu berkata, "Mungkin Bapak sudah lupa kepada saya. Dulu saya adalah pengemis yang sering mangkal di depan ATM. Gara-gara Bapak berkata,'Kamu juga pengusaha, bukan?'"
Selanjutnya ia berkata, "Saya waktu itu terharu. Anda ridak menganggp saya sebagai pengemis seperti orang lain, tetapi seorang pedagang. Seketika itu saya berhenti mengemis, lalu merintis usaha saya sendiri. Dan Bapak bisa lihat akhirnya saya berhasil! Terima kasih, Pak."
Dari kisah ini, bisa kita simpulkan bahwa kesuksesan itu tidak bergantung kepada modal yang banyak, melainkan motivasi dan keinginan untuk maju yang lahir dari hari masing-masing orang.
Sekian,
dan semoga bermanfaat :)
No comments:
Post a Comment